AssalamualaikumWr. Wb. Bersyukurlah kita masih diberi kesehatan oleh allah swt Sehingga Masih Dapat Medapatkan Ramadahan Kali ini, Pada kesempat kesempatan yang berbahagia ini Kita akan membahasa Mengenai Malam Lailatul Qadar.
Margasatwa tak berbunyi
Gunung menahan nafasnya
Angin pun berhenti
Pohon-pohon tunduk
Dalam gelap malam
Pada bulan suci
Qur’an turun ke bumi
Qur’an turun ke bumi

Inilah malam seribu bulan
Ketika cahaya sorga menerangi bumi
Ketika cahaya sorga menerangi bumi
Inilah malam seribu bulan
Ketika Tuhan menyeka airmata kita
Ketika Tuhan menyeka dosa-dosa kita

itulah tadi sekedar gambaran Malam Lailatul Qadar  lirik lagu religi yang dilantunkan Bimbo? Secara sepintas tidak ada yang aneh dengan liriknya, tetapi makna yang terkandung di dalamnya sungguh  dahsyat.

Malam Lailatul Qadar tidak sama dengan malam-malam biasanya. Malam ini menjadi sangat istimewa bagi umat muslim dengan berbagai alasan. Pertama, ini merupakan salah satu malam di bulan Ramadhan di mana ayat suci Al-Quran di turunkan pada Rasulullah Muhammad SAW.

Malam ini memiliki kebaikan seribu bulan. Artinya, semua amal ibadah yang dilakukan pada malam ini memiliki keseteraan dengan ibadah yang dilakukan selama seribu bulan atau sam dengan amal ibadah selama 83 tahun dan 4 bulan. Ketiga, malam ini hanya diberikan kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya dan tidak pernah diturunkan kepada nabi dan umut-umat sebelumnya.


Keutamaan Lailatul Qadar

Lihat kembali lirik lagu di atas. Begitulah kiranya penggambaran Lailatul Qadar. Sungguh sangat beruntung orang yang mendapatkan kemuliaan malam ini.

Allah SWT berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Quran pada malam Lailatul Qadar (1). Tahukah engkau apakah malam Lailatul Qadar itu? (2). Malam lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan (3). Pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Allah Tuhan mereka (untuk membawa) segala urusan (4). Selamatlah malam itu hingga terbit fajar (5).
(QS Al – Qadar: 1-5).

Sepertiga akhir dari bulan Ramadhan ini adalah terdapat malam Lailatul Qadar, suatu malam yang sangat dimuliakan oleh Allah Ta’ala dibandingkan dengan malam-malam lainnya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi, dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.’ (QS. Ad Dukhan: 3-4).


Kapan waktunya Lailatul Qadar?

Sudah begitu banyak hadis yang menerangkan bahwa malam penuh keberkahan malam ini berlangsung pada sepuluh terakhir di bulan suci Ramadhan. Sementara hadis yang lainnya menegaskan bahwa malam itu akan jatuh di malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir (21, 23, 25, 27, dan 29). Sebagaimana sabda Nabi yang diriwayatkan oleh imam HR. BUkhari: “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir di bulan ramadhan.” Dan “Carilah Lailatul Qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.”

Ada juga yang hadis yang menerangkan bahwa malam itu ada pada salah satu malam dari tujuh hari menjelang berakhirnya puasa (25, 27, dan 29). HR. Muslim meriwayatkan sabda Nabi: “Carilah Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia tertimpa kelelahan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.”

Semua hadis-hadis tersebut tidak ada yang bertentangan. Bahkan, semakin memperjelas waktu tibanya malam ini walaupun tidak ada seorangpun yang bisa memastikan turunnya malam ini dengan pasti.

Terdapat juga pendapat umum yang menyatakan bahwa malam ini jatuh setiap tanggal 27 di bulan Ramadhan. Para ulama di Makkah al Munawarroh mengkhatamkan Al Qur’an bersamaan dengan shalat Tarawih ke 27. Pada tanggal inilah, orang-orang berlomba memperbanyak amalan ibadahnya, shalat tarawih dan shalat sunah lainnya, memberi makan fakir miskin, memberi buka kepada orang yang berpuasa, dan amalan yang lainnya.

Di negara kita sendiri, terdapat suatu kegiatan unik yang dilakukan oleh jemaah thareqat mu’tabarah yang menjadikan malam ke 27 di bulan Ramadhan menjadi malam paling istimewa (malam pitulikuran). Mereka memanfaatkan waktu tersebut untuk berbaiat, beribadah, dan berziarah kubur.

Untuk mendapatkan keutamaan malam ini, tambahlah porsi ibadah kita selama bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan biasa. Shalat lima waktu jangan ditinggalkan dan laksanakan tepat waktu dan berjamaah. Dirikan shalat malam.

Lantunkan ayat-ayat suci Al-Quran sebanyak-banyaknya dengan pelan dan sesuai dengan ejaan tajwidnya. I’tikaf di mesjid sangat dianjurkan (disunahkan) sebagimana yang dicontohkan oleh Rasullulah dengan memperbanyak dzikir, istighfar dan memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala.


Do’a pada Malam Lailatul Qadar

Sebagaimana yang disyaratkan, malam ini adalah malam pengampunan kita atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Maka, sudah selayaknyalah dilantunkan berbagai doa dan pujian disertai dengan keikhlasan hati untuk meminta kepada-Nya. Terdapat satu do’a khusus yang biasa diucapkan pada malam-malam ini, yaitu:

“Allahummma innaka ‘afuwwun, tuhibbul ‘afwa, fa’fu’anni.” (Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pemaaf dan senang memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku.”

Doa ini merupakan doa yang berkaitan dengan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan juga berkaitan dengan malam ini yang diajarkan oleh Rasulullah kepada istri tercintanya, Aisyah.
Tanda-tanda Lailatul Qadar

Allah SWT tidak menyatakan dengan jelas dan menyembunyikan tentang waktu datangnya malam ini. Ini menjadi sebuah pertanda akan kegigihan niat dan usaha bagi orang yang menginginkannya. Bagi orang yang benar-benar menginginkan hikmah dari malam tersebut tentu akan lebih bersemangat menjalankan segala amalan ibadah di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan dan akan sungguh-sunguh menjalankannya.

Selain itu, penyembunyian waktu datangnya malam ini menjadi ajakan bagi umat-Nya untuk memperbanyak amalan ibadah untuk lebih mendekatkan diri pada sang pencipta, Allah Ta’ala, dan mendapatkan pahala yang banyak dan melimpah.

Meskipun waktu datangnya malam ini dirahasiakan, tetapi Allah Ta’ala dan Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan berbagai pertanda yang bisa dijadikan sebaga acuan tibanya malam ini. Tanda-tanda malam ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah Ta’ala dan Rasullulah SAW adalah sebagai berikut.

    Malaikat Jibril turun ke Bumi memimpin malaikat lainnya sampai datangnya waktu subuh. Pertanda ini tidak bisa ditangkap dengan panca indera manusia karena merupakan peristiwa gaib.
    Allah SWT menjanjikan keselamatan bagi hamba-hambanya yang taat beribadah sampai menjelang waktu subuh. Malaikat Jibril dan malaikat yang lainnya diturunkan ke bumi untuk memberikan kebaikan, keberkahan, dan ketenangan. Oleh karena itulah, orang mukmin yang sedang beribadah merasakan ketenangan hati dan kekhusyu’an beribadah melebihi malam-malam lainnya.
    Malam itu menjadi malam yang penuh kedamaian. Langit cerah terang benderang, angin bertiup sepoi-sepoi, dan suhu udara yang menyejukkan, tidak panas, dan tidak dingin.
    Keesokan harinya, matahari terbit putih tanpa noda dengan sinarnya yang tidak terik. Para ulama menjelaskan sebuah rahasia menjelaskan fenomena ini seperti yang dikutip dari berbagai hadis. Pada malam ini, begitu banyak malaikat yang turun ke bumi memberikan kemuliaan pada umat manusia. Ketika terbit fajar, para malaikat inipun segera naik kembali ke langit. Bentangan sayap dan cahaya dari para malaikat ini lah yang menutupi sinar matahari dan terlihat seperti warna putih.

Pertanda telah datangnya malam ini baru disadari oleh umat muslim keesokan harinya atau setelah berlalunya malam ini. Sungguh berbahagia dan beruntung umat muslimin yang mendapatkan hidayah di malam ini. Akan nampak pada dirinya sebuah perubahan yang sangat besar. Berikut beberapa ciri orang yang mendapatkan wasilah malam ini.

Ia akan melihat semua makhluk dan benda di muka bumi bersujud ke hadapan Allah SWT.
Ia mampu melihat semuanya dengan terang benderang walaupun dalam keadaan gelapgulita.
Ia akan mendengar salam dari para malaikat dan semua tutur kata yang diucapkannya.
 Ia akan mendapatkan jaminan semua doa-doanya akan terkabul.

Apapun itu, malam ini menjadi sebuah cambuk bagi umat muslimin untuk terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Semangat ini tidak hanya berhenti pada malam ini saja tetapi diharapkan akan lebih meningkat minimalnya sama dengan apa yang dilakukan pada malam ini.

Manusia adalah manusia, makhluk yang memiliki hawa dan nafsu. Diperlukan keteguhan dan ketulusan hati serta rasa sadar diri bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah Ta’ala dan akan kembali kepada-Nya setelah selesai menjalankan tugas yang diembankan kepadanya. Akan kembali dengan kebaikan apabila manusia menjalankan kebaikan selama kehidupannya dan akan merugi apabila manusia menjalankan kejelekan selama kehidupannya.

Sudah selayaknya malam Lailatul Qadar dijadikan sebagai contoh untuk meningkatkan semua amalan ibadah kita. Semoga, kita semua termasuk orang-orang yang bisa menikmati indahnya faedah malam yang istimewa ini, malam yang setara dengan seribu bulan yang belum tentu kita bisa hidup sepanjang itu. Sekian dan terimahkasi atas Perhatiannya Sahabat KAi Wasslamualikum Wr. Wb.
Reactions:

1 comment: